NADIKABAR.COM — Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa (EU) akan memberikan tambahan waktu satu tahun bagi kalangan eksportir bahan bakar fosil terkait fleksibilitas aturan metana guna meringankan biaya energi.
Berbicara di hadapan Parlemen Eropa di Strasbourg, Selasa (6/10), von der Leyen mengatakan langkah tersebut akan membantu mengurangi biaya bagi para eksportir di tengah tekanan hebat yang melanda pasar energi Eropa.
"Kami akan memberikan fleksibilitas kepada eksportir selama satu tahun lagi terkait aturan metana," ujarnya, seraya menambahkan bahwa langkah tersebut akan "menghemat biaya tambahan di masa krisis."
Regulasi metana EU dirancang untuk mengurangi emisi metana dari sektor energi dan mencakup bahan bakar fosil yang diproduksi di dalam blok tersebut serta minyak, gas alam, dan batu bara impor.
Berdasarkan jadwal penerapan regulasi saat ini, pihak importir seharusnya mulai menunjukkan, sejak 1 Januari 2027, bahwa emisi metana yang terkait dengan produksi bahan bakar fosil dalam kontrak terkait telah dipantau, dilaporkan, dan diverifikasi secara independen sesuai dengan standar yang setara dengan aturan EU.
Dia menyebutkan bahwa harga gas telah melonjak 140 persen akhir Februari, sementara harga diesel naik dua kali lipat. Dia pun menambahkan bahwa impor bahan bakar fosil telah membebani Eropa dengan biaya tambahan sebesar 100 miliar euro (Rp2.011 triliun) tanpa menghasilkan tambahan pasokan energi.
"Keluarga dan industri harus menanggung dampak krisis yang terjadi jauh di luar perbatasan kita... Dunia usaha berada di bawah tekanan berat. Masyarakat kesulitan membayar tagihan mereka. Dan situasi ini bisa semakin parah menjelang musim dingin," kata von der Leyen.
Pihak eksekutif EU juga merencanakan dialog strategis mengenai kilang minyak Eropa serta pembentukan gugus tugas baru untuk mengonsolidasikan permintaan energi dan memfasilitasi pengadaan bersama, ungkap von der Leyen.
Namun, dia menegaskan bahwa respons jangka panjang blok tersebut harus berfokus pada pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Selama Eropa bergantung pada minyak dan gas, kesejahteraan kita akan terus rentan terhadap peristiwa di luar kendali kita. Saat kita mengimpor bahan bakar fosil, kita juga mengimpor guncangan dan krisis yang menyertainya," tegas von der Leyen.
Oleh karena itu, von der Leyen menyatakan bahwa Eropa harus beralih dari bahan bakar fosil ke listrik bersih yang dihasilkan di dalam wilayah Eropa sendiri.
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia