Selain itu, AS juga meminta tambahan Rp 22,5 juta dengan dalih biaya pengurusan visa dan tiket keluarga yang akan mendampingi keberangkatan.

Masalah mulai muncul ketika jadwal keberangkatan korban dan putranya terus mengalami penundaan hingga akhirnya pada 21 September 2025 mereka hendak terbang melalui Bandara Juanda Surabaya. AS disebut sengaja datang terlambat hingga proses boarding pass ditutup, kemudian rute penerbangan dialihkan melalui Bali.

Keanehan lain terungkap ketika korban berada di Bali, karena tiket penerbangan yang digunakan untuk keberangkatan ternyata dibeli menggunakan uang pribadi rekan AS dan bukan berasal dari dana yang telah disetorkan korban.

Polisi menyebut, dana yang dibayarkan korban berkaitan dengan program tersebut justru diduga disalahgunakan tersangka.

Persoalan belum berhenti setelah korban sampai di China karena AS kembali meminta uang sebesar Rp 56,6 juta dengan dalih transaksi penukaran melalui WeChat Pay ketika membeli perhiasan.

Transaksi pembelian perhiasan tersebut ternyata gagal, tetapi uang yang telah diberikan korban disebut tetap tidak kembali.

Puncak kekecewaan korban terjadi setelah putranya mengetahui program yang dijalani di China bukanlah pendidikan S1 Kedokteran langsung seperti yang sebelumnya dijanjikan.