Selain persoalan industri nasional, lanjut Ari, FAKTA Indonesia juga menyoroti peningkatan jumlah pengguna KRL pada 2026. Ari menyebut pada semester I 2026 terjadi lonjakan jumlah penumpang hingga 11,3 persen.

Peningkatan tersebut seharusnya dapat diantisipasi melalui perencanaan kebutuhan armada yang lebih matang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap perencanaan dan manajemen penyediaan sarana transportasi massal.

"Lonjakan penumpang bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Karena itu, kebutuhan armada seharusnya dapat diproyeksikan dan dipersiapkan sejak awal. Jangan sampai persoalan perencanaan kemudian ditutup dengan kebijakan impor kereta bekas," bebernya.

Ia menyebut, agenda hilirisasi dan industrialisasi semestinya dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan industri nasional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan. Pengadaan sarana transportasi publik, lanjutnya, dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ekosistem industri perkeretaapian Indonesia.

"Menyikapi persoalan tersebut, FAKTA Indonesia meminta Presiden Prabowo Subianto membatalkan rencana impor KRL bekas dari Jepang dan mendorong pengadaan kereta baru untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat," kata dia.