NADIKABAR.COM — Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengajak pemerintah, mitra pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat bersama-sama menutup kesenjangan gender serta berinvestasi pada perempuan petani melalui Festival Raya Tani 2026.
Festival yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, itu digelar dengan tujuan untuk memperkuat suara petani perempuan dan memperluas akses pasar bagi mereka melalui serangkaian kegiatan, seperti Suara Tani (diskusi petani), Rembuk Tani (dialog kebijakan bersama petani), dan Pasar Tani.
“Festival Raya Tani 2026 menceritakan kisah di balik makanan yang tersaji di piring kita; kisah yang tidak hanya mencerminkan kerentanan perempuan petani terhadap perubahan iklim, tetapi juga ketangguhan mereka,” kata Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Laporan FAO berjudul “The Unjust Climate” menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak bersifat netral gender.
Setiap tahun, catat FAO, rumah tangga perdesaan yang dikepalai oleh perempuan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah kehilangan pendapatan 8 persen lebih besar atau setara dengan 37 miliar dolar AS akibat tekanan panas dan 3 persen lebih besar atau sekitar 16 miliar dolar AS per tahun akibat banjir, dibandingkan dengan rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki.
Menurut estimasi FAO, menutup kesenjangan gender berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 1 triliun dolar AS dan mengurangi kerawanan pangan bagi 45 juta orang.
Adapun Festival Raya Tani 2026 diinisiasi oleh FAO dan UN Women, bekerja sama dengan organisasi kepemudaan PIJAR Foundation serta World Food Forum (WFF) Indonesia, dalam rangka memperingati Tahun Internasional Petani Perempuan 2026 dan Hari Pangan Sedunia.
UN Women untuk Indonesia sekaligus penghubung untuk ASEAN memandang bahwa perempuan petani memegang peranan vital dalam menopang penghidupan, menjaga keanekaragaman hayati, dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim.
Menurut keterangan tersebut, festival itu menjadi momentum untuk merayakan kepemimpinan dan kontribusi perempuan petani, memperkuat suara mereka, serta mendorong para pengambil kebijakan sektor publik maupun swasta untuk lebih memperhatikan dan berinvestasi dalam meningkatkan akses perempuan petani terhadap sumber daya, teknologi, dan proses pengambilan keputusan
Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Fajar Nuradi mengatakan bahwa ketahanan pangan dan perubahan iklim saling berkaitan erat.
Dalam konteks tersebut, imbuh dia, penerapan climate smart agriculture menjadi sangat relevan. Peningkatan produktivitas pertanian akan sejalan dengan komitmen iklim.
“Oleh karenanya peningkatan kapasitas tentang climate smart agriculture serta perluasan akses pendanaan, bibit dan lahan bagi petani termasuk petani muda dan petani perempuan, merupakan suatu keniscayaan,” kata Fajar.
Pada penyelenggaraan Festival Raya Tani 2026, para pengunjung dapat menikmati beragam produk segar maupun produk bernilai tambah hasil karya petani dan produsen perempuan dari berbagai pelosok negeri.
Produk-produk tersebut mencakup olahan berbasis sagu dari Riau, produk rumput laut dari Nusa Tenggara Timur, hingga produk organik dari 19 provinsi di seluruh Indonesia.
Banyak di antaranya merupakan bagian dari kemitraan antara FAO dan UN Women dengan pemerintah Indonesia serta komunitas lokal dalam mendukung produksi berkelanjutan.
Kemitraan itu melibatkan berbagai pihak, seperti petani mangga di Jawa Timur dan Jawa Barat, produsen ikan nila di Jawa Barat, serta kelompok perempuan di Nusa Tenggara Barat.