"Berdasarkan pemantauan kondisi meteorologi, pola angin di wilayah NTT masih didominasi angin dari arah timur. Pola angin tersebut secara meteorologis memungkinkan terjadinya transportasi partikulat dari wilayah di sebelah timur NTT. Apabila terdapat sumber emisi berupa kebakaran hutan dan lahan di wilayah timur, partikulat yang dihasilkan bisa berpotensi terbawa oleh aliran udara ke wilayah NTT," jelas Maria.

Selain karhutla, Maria menyebut terdapat kemungkinan haze atau aerosol yang menyebabkan udara kabur berasal dari percikan air laut yang menghasilkan partikel garam dan terangkat ke atmosfer sebab wilayah NTT dikelilingi laut.

Menurutnya, indikasi partikulat halus dan aerosol berdasarkan pemodelan BMKG tidak serta merta menunjukkan bahwa kondisi tersebut hanya disebabkan oleh asap kebakaran.

"Penentuan sumber partikulat memerlukan analisis lebih lanjut, sedangkan kondisi kualitas udara aktual perlu dikonfirmasi melalui pengukuran langsung," ungkap Maria.