Ricky mengatakan, puncak kegiatan biasanya berlangsung sekitar pukul 17.00 hingga 18.00 WIB. Namun, rangkaian kegiatan masih dilanjutkan pada malam hari.

Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian pengunjung adalah pembakaran kertas sembahyang dan berbagai perlengkapan dari kertas yang telah disiapkan.

Menurut Ricky, pembakaran tersebut merupakan bentuk persembahan bagi arwah leluhur. Selain itu, pihak vihara juga memberikan persembahan bagi arwah yang tidak memiliki keluarga atau tidak diperingati oleh keluarganya.

"Tujuannya untuk arwah leluhur kita. Juga dekorasi rumah, rumah-rumah itu sesuai dengan nama-namanya. Itu arwah yang tidak ada yang peringati leluhurnya, tidak ada sembahyang, kita sumbang," katanya.

Persembahan tersebut, lanjut Ricky, bukan berasal dari keluarga tertentu, melainkan merupakan sumbangan sukarela dari masyarakat.

"Bukan dari keluarga, dari sukarelawan. Siapa pun boleh sumbang," ungkapnya.

Ricky menyebut peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Kota Medan. Sejumlah pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri.