NADIKABAR.COM — Langit cerah menaungi area outdoor Summarecon Mall Bandung, Jumat (28/8/2026). Di sore menjelang malam, suasana di lokasi Festival Kuliner Bandung semakin ramai.
Pengunjung berjalan dari satu tenant ke tenant lain, sementara dari panggung musik terdengar alunan lagu yang menghidupi suasana.
Di sejumlah sudut, berdiri plang-plang nama jalan yang akrab bagi warga Bandung. Ada Jalan Cihapit, Jalan Cibadak, Jalan Cihampelas, dan nama kawasan lainnya yang menjadi penanda area kuliner.
Setiap jalan membawa sajian yang berbeda, seolah pengunjung sedang diajak menyusuri sudut-sudut Kota Bandung dalam satu kawasan.
Di Jalan Cihapit, misalnya, pengunjung bisa menemukan sajian yang identik dengan kawasan tersebut seperti Surabi Cihapit.
Sementara kawasan Jalan Cibadak menghadirkan pilihan makanan non-halal yang memang menjadi bagian dari karakter kuliner kawasan tersebut.
Semakin malam, suasana festival semakin semarak. Selain puluhan gerai makanan dan panggung musik, wahana bergaya pasar malam juga menjadi atraksi yang banyak diminati.
Komidi putar, bianglala dan sejumlah permainan menjadi daya tarik bagi keluarga yang datang bersama anak-anak.
Tahun ini, Festival Kuliner Bandung mengusung tema "Bandung Tempo Doeloe". Di dalamnya terdapat aneka makanan legendaris Bandung yang hingga kini masih eksis diburu pembeli.
Center Director Summarecon Mall Bandung, Juni Hadi Hasan, mengatakan konsep festival terus berubah setiap tahun. Pada 2024, festival pertama mengangkat makanan dari berbagai negara di Asia. Tahun berikutnya, tema "Jelajah Sensasi Rasa" membawa pengunjung menjelajahi kuliner Nusantara.
Memasuki tahun ketiga, tema Bandung Tempo Doeloe dipilih karena dinilai sesuai dengan karakter kuliner yang ingin dihadirkan.
"Suasana mall nya sendiri kan sudah identik menjadi tempat wisata ya, jadi saya kira tema 'Bandoeng Tempo Doleloe' itu cocok untuk tahun ini, sekaligus juga sebagai bentuk support pada pemerintah yang ingin banyak wisatawan datang," ungkap Juni saat ditemui di sela acara.
Berbagai nama kuliner yang sudah lama dikenal masyarakat ikut hadir. Ada Bola Obi Gadujati, Kupat Tahu Gempol, Surabi Cihapit, Roti Bakar Panjo, Es Cendol Elizabeth, hingga RM Pagi Sore. Pengunjung juga bisa menemukan kopi, aneka jajanan berbahan aci, seafood dan berbagai makanan lainnya.
Juni mengatakan pihaknya memang ingin mengumpulkan kuliner-kuliner yang selama ini menjadi tujuan wisatawan ketika datang ke Bandung.
"Biasanya wisatawan yang mau mencari makanan legend Bandung kan harus berpindah-pindah tempat ya. Jadi kita coba untuk merangkum makanan-makanan tersebut semaksimal mungkin," ujarnya.
"Sehingga orang tidak usah keliling-keliling Kota Bandung lagi, (kuliner legendaris) sudah kita bawa ke sini," lanjutnya.
Festival Kuliner Bandung tahun ini menghadirkan 88 tenant kuliner, meningkat dibandingkan tahun lalu yang berjumlah sekitar 70 tenant. Sekitar 50-60 persen tenant merupakan pelaku kuliner asal Bandung, sedangkan lainnya berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat hingga Jakarta.
Untuk mendapatkan tenant-tenant tersebut, Juni mengatakan, Summarecon Mall Bandung melakukan kurasi langsung. Mereka mendatangi berbagai tempat untuk mencari makanan yang dianggap memiliki cita rasa kuat sekaligus dikenal masyarakat.
"Jadi kita cari tenant itu kanvasing ke daerah-daerah, termasuk yang di Bandung maupun sampai ke misalnya ke Garut, ke Jakarta. Kita samperin tenant-tenant-nya," tuturnya.
Tim kemudian mencoba makanan tersebut sebelum menentukan apakah tenant layak diajak bergabung. Untuk masuk ke dalam kategori "kuliner legendaris", ia mengatakan, tim kurasi tidak terpaku pada lama berdirinya bisnis yang bersangkutan.
"Kita tidak mengkur dari lama waktu (berjualan) saja, tapi juga viralitasnya. Legendaris itu karena masih banyak orang yang cari, bukan hanya warga Bandungnya. Tapi juga jadi incaran warga luar Kota Bandung," paparnya.
Upaya tersebut menghasilkan sejumlah tenant yang cukup sulit ditemui dalam festival kuliner. Salah satunya Perkedel Bondon yang dikenal berjualan pada malam hingga dini hari.
Tim Summarecon bahkan mendatangi langsung lokasi Perkedel Bondon sekitar pukul 23.00 WIB untuk menawarkan keikutsertaan dalam festival.
Juni mengaku tidak menyangka ketika akhirnya Perkedel Bondon bersedia ikut. Hal serupa terjadi saat tim mencoba mengajak Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih dari Jakarta.
"Kita bilang, ayo tim food, kejar saja dulu, canvassing ke sana, tawarin. Eh dia mau juga. Kita nggak nyangka juga dan pertama kali ada di Bandung," ujarnya.
Riska Diana, generasi ketiga pemilik Perkedel Bondon, mengaku Festival Kuliner Bandung adalah event kuliner pertama yang ia jajaki. Sebelumnya, perkedel legendaris tersebut fokus berjualan di lokasi.
"Ini pertama kali ikut event, coba-coba aja, untuk memperluas strategi dagang. Kita coba agar semakin dikenal," ungkapnya saat ditemui di lokasi.
Tanpa disangka, ia mengatakan, dalam satu hari pihaknya bisa menjual lebih dari 1.000 pcs perkedel. Hal ini pun tampak dari antrean pembeli yang hampir selalu mengular di setiap jam.
"Kita jual per paket harga Rp35.000 isi 8 buah. Jadi kalau ditotalin, sudah ada lebih dari 1.000 buah sehari (terjual)," pungkasnya.
Menariknya, harga makanan yang ditawarkan tenant mengikuti harga asli yang biasa dijual di tempat mereka. Sehingga, pengunjung memiliki pilihan jajanan dengan harga yang relatif terjangkau.
Untuk Bola Obi Gardujati misalnya, 10 pcs bola obi dibanderol dengan harga Rp25.000, sama dengan harga aslinya. Untuk seporsi bakmie ayam kekinian, pengunjung juga hanya perlu merogoh kocek Rp30 ribuan.
Salah satu pengunjung, Nadya Saras (34), mengaku tertarik mengunjungi Festival Kuliner Bandung karena harga makanan yang ditawarkan cukup ramah di kantong.
Hal ini menjadi opsi di tengah tenant resto di dalam mall yang umumnya menawarkan harga lebih premium.
"Seru sih soalnya banyak makanan yang udah familiar, dan harganya juga cukup murah. Biasanya kalau festival kan suka dimahalin, ini enggak," ungkapnya.
"Kalau bisa mah tiap bulan adain kulineran begini. Lumayan ya, in this economy. Soalnya kalau jajan di restoran mall terus boncos," kelakarnya.
Pemilihan Gedebage sebagai lokasi festival juga memiliki alasan tersendiri. Juni mengatakan pihaknya ingin mendorong kawasan Bandung Timur agar semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata.
Selama ini, Gedebage masih kerap disebut sebagai kawasan "Bandung Coret". Bagi Summarecon Mall Bandung, kondisi tersebut justru menjadi tantangan untuk menunjukkan potensi kawasan tersebut.
"Memang tahun ini kita berpikir, wah kita juga harus bikin di Gedebage yang selama ini dianggap orang 'Bandung Coret' atau luar kota malah. Itu membuat kita juga tertantang," ujar Juni.
Menurutnya, potensi kawasan Gedebage semakin besar dengan keberadaan sejumlah fasilitas dan destinasi seperti Masjid Raya Al Jabbar, Stadion Gelora Bandung Lautan Api, kawasan transportasi kereta cepat, serta pusat perbelanjaan.
Sehingga, ia mengatakan, apa yang dihadirkan di Summarecon Mall dinilai dapat menjadi nilai tambah wisata dari kawasan yang terus berkembang tersebut.
"Jadi kita ingin wisatawan tahu bahwa Gedebage yang ada di timur Kota Bandung ini memiliki kompetensi wisata yang besar," jelasnya.
Festival Kuliner Bandung tahun ini juga berlangsung lebih lama, yakni 34 hari dibandingkan 26 hari pada tahun sebelumnya. Jumlah pengunjung ditargetkan mencapai sekitar 250 ribu orang.
"Sekalipun kita di pinggir kota, kita juga bisa bikin event yang menjadi salah satu yang bisa menarik orang datang, khususnya ke Bandung Timur, Gedebage," kata Juni.