"Kami disambut sangat ramah, masyarakat sini memberikan secangkir kopi gratis dan rasanya sangat enak," kata Jay pada keterangan tertulisnya, Minggu (8/11/2026).

Hal senada turut dirasakan oleh Sarah, wisatawan asal Spanyol, yang tampak antusias karena bisa berinteraksi langsung dengan warga lokal. Sementara itu, Kazuki Yoshida selaku wisatawan asal Jepang mengaku sangat terkesan dengan beragam kuliner tradisional Banyuwangi yang sempat dicicipinya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa tradisi minum kopi bagi masyarakat Using bukan sekadar kebiasaan semata, tetapi juga simbol persaudaraan. Hal ini tercermin nyata dalam semboyan 'Sak Corot Dadi Sakduluran' yang berarti sekali seduh menjadi saudara.

"Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong. Masyarakat ikhlas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan," ujar Ipuk.

Ipuk turut mengapresiasi masyarakat Kemiren yang konsisten menjaga tradisi warisan leluhur hingga desanya dikenal luas sebagai desa adat wisata. Ia memastikan bahwa Pemkab Banyuwangi akan terus memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya sekaligus pengembangan Desa Kemiren.