Sementara itu, Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin menjelaskan bahwa Festival Ngopi Sepuluh Ewu memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar menyajikan kopi. Festival ini benar-benar menggambarkan karakter asli masyarakat Osing yang selalu menjunjung tinggi nilai keramahan saat menerima tamu.
"Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu," ungkap Arifin.
Arifin memaparkan, 'suguh' berarti memberikan suguhan atau hidangan kepada tamu, meski hanya berupa minuman ringan. Lalu 'gupuh' bermakna antusias dan sigap menyambut kedatangan tamu yang hadir ke rumah.
Adapun 'lungguh' berarti tuan rumah harus menyediakan tempat duduk yang layak agar tamunya merasa nyaman. Seluruh nilai tersebut secara nyata tercermin dalam gelaran festival kopi tahunan ini.
"Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kearifan ini perlu terus kita rawat dan wariskan kepada anak cucu," pungkas Arifin.