NADIKABAR.COM β Film dokumenter "Celukan Bawang" mengangkat kehidupan masyarakat pesisir di Bali Utara yang berada di tengah pembangunan infrastruktur energi.
Disutradarai Rai Astrawan, film berdurasi 25 menit ini menyoroti hubungan warga dengan laut, perubahan sosial-ekologis, serta posisi Celukan Bawang dalam pemenuhan kebutuhan energi Bali.
Ditemui dalam peluncuran dan diskusi film tersebut di Denpasar, Sabtu, Rai mengatakan film tersebut berangkat dari kegelisahannya terhadap minimnya perhatian terhadap Celukan Bawang, meskipun wilayah itu memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat Bali.
βSecara garis besar, Celukan Bawang merupakan sebuah desa kecil nelayan yang selama ini tidak cukup diangkat, tetapi pada kenyataannya desa ini punya peran vital dalam produksi energi yang dikonsumsi oleh Bali itu sendiri,β ujarnya.
Celukan Bawang merupakan desa pesisir yang terletak di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.
Selama ini, kehidupan masyarakatnya lekat dengan laut, terutama melalui profesi nelayan yang menggantungkan perekonomian pada hasil tangkapan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, desa tersebut juga berkembang menjadi salah satu kawasan penting bagi pembangkitan energi di Bali melalui keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang I.
Melalui film ini, Rai ingin menunjukkan Celukan Bawang tidak semata-mata merupakan kampung nelayan, tetapi juga ruang hidup yang berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi di wilayah lain, termasuk kawasan yang menopang aktivitas ekonomi dan pariwisata Bali.
Ia juga menempatkan Celukan Bawang sebagai ruang sekaligus subjek dalam film. Pendekatan tersebut bertujuan menghadirkan desa dan kehidupan masyarakatnya sebagai bagian utama cerita, bukan sekadar latar dari pembangunan infrastruktur energi.