Gagasan pembuatan film ini berangkat dari interaksi Rai dengan masyarakat setempat. Ia mengaku telah cukup lama menulis, memproduksi video, berinteraksi dengan warga dan nelayan, serta mengikuti berbagai kegiatan di Celukan Bawang.
Pengalaman tersebut mendorongnya untuk mengangkat narasi yang dinilai belum banyak mendapat perhatian publik, khususnya hubungan antara kehidupan masyarakat pesisir dan konsumsi energi Bali.
Menurut Rai, masyarakat perlu melihat keterkaitan tersebut agar tidak memandang Celukan Bawang hanya sebagai wilayah penghasil energi, melainkan juga sebagai ruang hidup dengan persoalan sosial dan ekologis yang perlu diperhatikan.
Dalam sinopsisnya, film Celukan Bawang turut menyoroti rencana pengembangan energi di kawasan tersebut melalui pemanfaatan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), yang dikaitkan dengan ambisi mewujudkan kemandirian energi Bali.
Film ini menggambarkan bagaimana kebutuhan energi menjadi elemen penting dalam pembangunan industri dan pariwisata Bali. Namun, di sisi lain, pengembangan sumber energi juga berpotensi menimbulkan persoalan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah sasaran pembangunan.
Dokumenter tersebut mempertanyakan posisi Celukan Bawang dalam agenda pembangunan energi, terutama ketika kebutuhan untuk memenuhi konsumsi energi berhadapan dengan keberlangsungan ruang hidup masyarakat pesisir.
Sinopsis film juga menyoroti persoalan transparansi komunikasi mengenai kebijakan pengembangan energi berbasis LNG kepada warga.
Persoalan ini menjadi bagian dari kegelisahan yang hendak disampaikan melalui film.