Dengan demikian, film tersebut tidak hanya berbicara tentang energi, tetapi juga mengenai bagaimana kebijakan pembangunan dirumuskan, dikomunikasikan, dan berdampak terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pengembangan.

Rai berharap film dokumenter tersebut dapat menjadi media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan publik, termasuk kebijakan pembangunan dan energi.

Ia ingin penonton tidak hanya menerima pembangunan sebagai proses untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga bersikap kritis terhadap dampak dan konsekuensinya bagi kehidupan warga.

Dalam proses produksi, salah satu tantangan yang dihadapi adalah belum terwujudnya pembangunan yang menjadi bagian dari isu yang diangkat. Kondisi tersebut membuat tim produksi harus mencari cara untuk membangun visual mengenai sesuatu yang belum tersedia secara nyata.

β€œKarena belum terjadi proses pembangunan (pembangkitnya), sehingga kita perlu mengimajinasikan itu. Itu sih tantangannya, karena barangnya belum ada. Jadi kita harus mencari cara bagaimana menyusun visualnya,” kata Rai.

Meski menghadapi tantangan tersebut, ia menyebut tanggapan masyarakat terhadap film ini sangat baik dan suportif.

Melalui Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali, Rai berupaya menghadirkan potret kehidupan masyarakat pesisir yang berada di persimpangan antara kebutuhan energi, agenda pembangunan, dan keberlanjutan lingkungan.

Film berdurasi 25 menit ini diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara konsumsi energi dan wilayah yang menjadi sumber pemenuhannya, sekaligus mendorong perhatian terhadap masyarakat yang terdampak oleh arah pembangunan tersebut.