NADIKABAR.COM β€” Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), menyerukan pencegahan dan mitigasi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P(K), menekankan bahwa kesehatan manusia harus menjadi bagian integral dari upaya perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla.

β€œKarhutla bukan sekadar persoalan asap. Ini adalah persoalan kesehatan, keselamatan, dan masa depan generasi kita. Kita tidak boleh hanya bereaksi ketika bencana terjadi. Pencegahan paparan, pengenalan risiko kesehatan sejak dini, dan tindak lanjut yang tepat harus diperkuat dengan bukti ilmiah dan kolaborasi lintas disiplin,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Direktur IMERI FKUI, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, menyampaikan bahwa perlindungan kesehatan anak dari dampak karhutla memerlukan pendekatan yang berkesinambungan, tidak hanya saat asap pekat melanda.

Pendekatan multidisiplin diperlukan karena dampak paparan asap dapat bervariasi menurut karakteristik individu, kondisi kesehatan, intensitas paparan, dan lingkungan.

Anak-anak, lansia, individu dengan penyakit kronis, serta pekerja yang berpotensi terpapar memerlukan perhatian sesuai tingkat risikonya.

Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia yang juga Staf Divisi Respirologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, memaparkan bahwa dampak paparan asap karhutla tidak berhenti pada gangguan pernapasan akut.

Anak-anak yang terpapar secara kronik berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang bersifat permanen, peningkatan risiko asma persisten dan PPOK, gangguan pertumbuhan yang berujung pada stunting, hingga potensi gangguan perkembangan otak dan kognitif.