Nastiti menjelaskan bahwa kerentanan anak terhadap asap karhutla disebabkan oleh beberapa faktor mendasar yakni paru anak masih berkembang dengan saluran napas yang lebih sempit sehingga partikel lendir mudah menumpuk dan menyumbat.
Anak juga bernapas lebih cepat, sehingga udara yang dihirup per kilogram berat badan lebih banyak dibandingkan orang dewasa.
Selain itu, anak lebih aktif di luar rumah dengan waktu dan aktivitas fisik yang lebih berat, sementara penyaring hidungnya masih kurang sempurna sehingga lebih banyak partikel masuk ke paru.
Sistem imunitas anak pun belum matang, termasuk sistem detoksifikasi yang masih berkembang.
Ia memaparkan perjalanan partikel PM2.5 dalam tubuh anak. Partikel yang sangat kecil sekitar 30 kali lebih kecil dari diameter rambut masuk melalui hidung dan saluran napas atas, kemudian mencapai bronkus dan bronkiolus, alveolus, hingga akhirnya masuk ke aliran darah.
Dampak akut yang timbul meliputi ISPA, serangan asma yang lebih sering dan berat, iritasi mata, hingga penurunan nafsu makan.
Namun, yang menjadi perhatian utama adalah dampak jangka panjang pascapaparan kronik mengingatkan bahwa gangguan pertumbuhan paru di masa kecil dapat terbawa seumur hidup atau permanen.