Paparan sejak dalam kandungan juga berdampak pada pertumbuhan anak, dengan efek yang bertahan hingga 10 dan 17 tahun kemudian, termasuk risiko stunting. Bukti lain menunjukkan potensi gangguan capaian kognitif, IQ lebih rendah, serta gangguan perilaku dan memori.
Nastiti merinci empat langkah antisipasi yang harus dilakukan. Pertama, pantau tumbuh kembang anak dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala serta mewaspadai keterlambatan perkembangan.
Kedua, pantau pernapasan dengan memonitor batuk atau mengi berulang, menilai kontrol asma, serta melakukan spirometri atau uji fungsi paru bila memungkinkan.
Ketiga, tingkatkan pencegahan melalui imunisasi lengkap, nutrisi yang baik, rumah bebas asap rokok, dan penerapan PHBS.
Keempat, advokasi lingkungan melalui pemantauan udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, dan pencegahan karhutla.
Bagi FKUI, edukasi adalah langkah awal; riset diperlukan untuk memperkuat dasar ilmiah bagi perlindungan kesehatan yang berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, IMERI FKUI bersama Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja (ILUNI MKK) merencanakan studi mengenai dampak kesehatan lanjutan pada pekerja dan masyarakat pascakarhutla untuk menilai kondisi kesehatan dalam rentang satu hingga tiga bulan setelah kejadian, dengan fokus pada gejala sisa saluran pernapasan dan keluhan kesehatan lain yang relevan dengan paparan.