"Pancasila bukanlah sekadar dokumen konstitusional yang dihafalkan, melainkan harus benar-benar 'berbunyi' dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menyangkut ideologi negara, sehingga keberadaannya wajib dipertahankan dan diperkuat dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi," tegas Prof Nadiroh.
Di sisi lain, Cendekiawan sekaligus Pemikir Kebangsaan Yudi Latif mengingatkan pentingnya menata ulang filosofi dan praktik pendidikan nasional berlandaskan Pancasila guna merespons disrupsi Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi yang kian masif.
Mengutip pernyataan taipan teknologi Elon Musk di media The Economist, Yudi menyebutkan perkiraan bahwa dalam 5-10 tahun ke depan, sebagian besar pekerjaan manusia diprediksi akan digantikan oleh robot humanoid.
"Lalu, apa yang tersisa bagi manusia? Yang tersisa adalah pengalaman kemanusiaan, relasi sosial, serta makna dan tujuan hidup (the meaning and purpose of life)," tegas Yudi.
"Hal-hal tersebut tidak bisa digantikan oleh AI," sambungnya.
Sementara itu, Dekan FISIP Universitas Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang Muhammad Ibrahim Rantau menilai tantangan terbesar pendidikan karakter bangsa di perguruan tinggi saat ini justru bersumber dari sistem pendidikan yang kian pragmatis, komersialisasi, serta minimnya alokasi riset kebangsaan.
"Tantangan Pancasila hari ini jelas berbeda dengan masa Revolusi Kemerdekaan maupun Orde Baru. Saat ini, isu intoleransi dan moderasi beragama sebagian besar sudah diampu oleh pendidikan agama," ujar Ibrahim.
"Tantangan nyata Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi justru terletak pada ketimpangan ekosistem dan orientasi pendidikan itu sendiri," sambungnya.