Menyoroti dampak teknologi pada lapangan kerja, Budayawan Dr Ngatawi Al-Zastrow (Gus Zastro) mengutip riset McKinsey Global Institute yang memprediksi 52% jenis pekerjaan saat ini akan hilang pada tahun 2030. Meski begitu, riset tersebut membuktikan soft skill serta keterampilan emosional dan sosial seperti empati, kepemimpinan, serta integritas semakin diprioritaskan.

"Mau perubahan teknologi seperti apa pun, soft skill seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kesabaran adalah kebajikan karakter (virtue) yang bersumber dari Pancasila. Tugas kita sekarang adalah mengaktualisasikan dan merekonstruksi Pancasila agar dapat menopang soft skill tersebut," kata Gus Zastro.

Adapun Praktisi Pendidikan Nasional Indra Charismiadji menegaskan penguatan Pendidikan Pancasila tidak akan pernah berhasil jika sistem pendidikan nasional masih mengadopsi pola-pola era kolonial.

"Pendidikan kala itu diberikan atas dasar politik balas budi (karitatif), berlandaskan belas kasihan, bukan hak. Pertanyaannya sekarang, apakah anak-anak Indonesia hari ini sudah benar-benar mengalami Pancasila dalam sistem pendidikannya, atau kita masih memakai pola-pola kolonial?," tutur Indra.

Seluruh masukan dari para narasumber akan dirangkum oleh FPG MPR RI menjadi panduan kajian (kaleidoskop) untuk mengawal perjalanan Pendidikan Pancasila serta pelaksanaan UUD NRI 1945.

FPG MPR RI juga berupaya untuk terus mengawal implementasi konstitusi di sektor ekonomi-fiskal, salah satunya melalui inisiatif skema Obligasi Daerah guna memperkuat kemandirian daerah dalam kerangka utuh NKRI.

Sebagai informasi, diskusi publik yang dimoderatori oleh Salma Hasanah Noor ini dihadiri jajaran pimpinan FPG MPR RI, antara lain Ketua FPG MPR RI Melchias Markus Mekeng; Sekretaris FPG MPR RI Ferdiansyah; Bendahara FPG MPR RI Dr Adde Rosi Khoerunnisa; Wakil Sekretaris FPG MPR RI Muhammad Nur Purnamasidi; Anggota FPG MPR RI Dr Karmila Sari dan Drs Juliyatmono.