NADIKABAR.COM — Ketakutan terhadap gagasan sering kali diwujudkan dalam bentuk represi terhadap buku.
Contoh fenomenal tentang larangan terhadap buku di negeri ini, yang selalu menjadi contoh dalam diskusi, tentu saja pembredelan karya-karya Pramoedya Ananta Toer pada masa Orde Baru walau banyak kasus lain yang bisa disebut.
Sejatinya, tindakan merepresi teks sastra berakar pada kecemasan atas timbulnya cara pandang baru.
Beberapa waktu lalu, pembatalan diskusi buku bertajuk Memburu Muhammad karya Feby Indirani pada Pekan Sastra Bogor akibat intimidasi sekelompok massa memperlihatkan bahwa pola ancaman terhadap karya sastra belum beranjak.
Di era medsos, yang memanjakan algoritma kemasifan dan kejarangan membaca secara utuh, "gagap sastra" semakin mendapat tempat yang sesuai.