Perlu diperhatikan bahwa angka PPh Pasal 21 sebesar Rp120.000 dalam contoh tersebut merupakan asumsi untuk memperlihatkan cara menghitung gaji bersih, bukan angka pajak yang berlaku untuk semua karyawan bergaji Rp8 juta. Nilai pajak sebenarnya harus ditentukan berdasarkan status PTKP, komponen penghasilan yang menjadi objek pajak, serta penghitungan pajak perusahaan.

Faktor yang membuat gaji bersih setiap karyawan berbeda

Meskipun memiliki gaji bruto yang sama, jumlah penghasilan bersih yang diterima pekerja dapat berbeda. Hal ini disebabkan beberapa faktor.

Pertama, status perkawinan dan jumlah tanggungan memengaruhi kategori TER yang digunakan dalam penghitungan PPh Pasal 21. Status tersebut perlu disesuaikan dengan ketentuan perpajakan, bukan sekadar jumlah anggota keluarga yang tinggal bersama.

Kedua, komponen penghasilan setiap pekerja dapat berbeda. Tunjangan tetap, tunjangan tidak tetap, bonus, dan penghasilan lain dapat memengaruhi dasar penghitungan pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketiga, dasar penghitungan iuran BPJS juga perlu diperhatikan. Untuk program tertentu, dasar iuran dan batas upah yang diperhitungkan dapat berbeda. Selain itu, perusahaan mungkin menerapkan potongan lain yang sah dan tercantum dalam rincian penggajian, seperti iuran pensiun tambahan atau potongan pinjaman karyawan.

Keempat, jumlah potongan pajak dapat berubah pada masa pajak terakhir karena dilakukan penghitungan kembali berdasarkan penghasilan selama satu tahun pajak.

Karena itu, pekerja sebaiknya tidak hanya melihat jumlah gaji bruto dalam kontrak kerja. Memeriksa slip gaji setiap bulan dapat membantu memastikan rincian penghasilan dan potongan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Cara memastikan potongan gaji sudah sesuai

Pekerja dapat memulai dengan memeriksa slip gaji yang diberikan perusahaan. Pastikan nominal gaji pokok, tunjangan, potongan BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan PPh Pasal 21 tercantum secara jelas.

Jika terdapat perbedaan antara perkiraan dan jumlah yang diterima, tanyakan kepada bagian sumber daya manusia atau penggajian mengenai dasar penghitungan potongan tersebut. Untuk potongan BPJS, pekerja juga dapat memeriksa ketentuan program yang diikuti dan dasar upah yang dilaporkan perusahaan.

Sementara itu, untuk pajak penghasilan, pekerja dapat menggunakan fasilitas penghitungan pajak dari Direktorat Jenderal Pajak atau memeriksa bukti potong yang diberikan perusahaan. Langkah ini membantu pekerja memahami perbedaan antara pajak bulanan dan penghitungan pajak pada akhir tahun.

Dengan demikian, menghitung gaji bersih setelah potongan BPJS dan pajak dapat dilakukan dengan mengurangi gaji bruto menggunakan seluruh potongan yang menjadi tanggungan pekerja. Dengan memahami setiap komponennya, pekerja dapat memperkirakan pendapatan yang benar-benar diterima dan menyusun perencanaan keuangan secara lebih terukur.