Total, ada 13 perangkat yang digunakan untuk menyukseskan Jumenengan. Termasuk perangkat gamelan era PB IX tahun 1872, yang baru dikeluarkan pada kali ini.
Gamelan tersebut bernama Kyai Udan Arum dan Udan Asih, yang selama ini disimpan di Pradonggolor (Pusat Musik).
"Gamelan itu juga biasa dipakai mengiringi beliau saat memainkan wayang, karena beliau pintar mendalang juga," lanjutnya.
Tanggal Jumenengan Disiapkan Sejak Bulan Lalu
Dikatakan Gusti Moeng, tanggal pelaksanaan Jumenengan dihitung sejak bulan lalu, tepatnya berdasarkan perhitungan hari kelahiran PB XIV Mangkubumi dan berdirinya Keraton Solo.
"Tanggal itu sebetulnya sudah kita cari sejak sebulan yang lalu. Cuma, hari yang paling baik-dihitung dari hari kelahiran Sinuwun dan hari berdirinya keraton jatuhnya ya hari ini," terangnya.
Dia menjelaskan prosesi Jumenengan PB XIV Mangkubumi dimulai dari dalam Keraton Solo lalu keluar menuju Pagelaran dan Siti Hinggil mengucapkan ikrar.
"Tadi kan prosesinya keluar langsung menuju ke Pagelaran berdiri di Watu Gilang juga mengucapkan hal yang sama seperti di Siti Hinggil Manguntur Tangkil, di sana kan para pangrawit diiringi dengan tampilan-tampilan. Alhamdulillah, ada beberapa pusaka yang dimiliki oleh keraton dan tersimpan di beberapa tempat, kami kumpulkan untuk mengiringi Sinuhun tadi," jelasnya.
"Intinya, beliau bersumpah untuk meneruskan benang merah dari Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram. Beliau bersumpah untuk bisa menjadi pengayom dan menjadi pengikat semua sentono serta abdi dalem yang hadir saat itu kami batasi sekitar 2.500 orang," jelasnya.
Dalam Jumenengan tersebut, tidak ada kirab keliling kota. Gusti Moeng berdalih berkaitan dengan proses revitalisasi yang masih berjalan.