"Saya memang menyampaikan kepada pemerintah, dalam hal ini kepada Pak Menteri Kebudayaan, supaya menyampaikan kepada Bapak Presiden bahwa kami ini sedang menyelesaikan upacara adat yang harus kami penuhi. Nanti kirabnya dilaksanakan setelah selesai revitalisasi, insyaallah begitu," ungkapnya.
Selain itu, ada pula pergantian busana atau ageman yang dikenakan oleh PB XIV Mangkubumi selama prosesi di Siti Hinggil dan Sasana Sewaka.
"Kalau yang tadi itu Sekepan Ageng, sedangkan yang ini Takwo. Nggih, karena di sini posisinya lenggah siniwoko. Kalau di sana kan di Manguntur Tangkil. Memang beda, biasanya kalau ageman seperti itu langsung dirap. Tapi karena beliau tidak kirap, ya hanya sampai di Pagelaran saja," paparnya.
Ditanya mengenai tanggal tingalan jumenengan, Gusti Moeng mengaku akan melakukan rembukan terlebih dahulu. Menurutnya, Jumenengan PB XIV Mangkubumi sudah dilaksanakan pada 13 November 2025 dan hari ini untuk melengkapi prosesi Jumenengan.
"Itu akan kami rembuk bersama, karena sebetulnya kita kan sudah jumeneng pada tanggal 13 November 2025. Nah, ini judulnya untuk melengkapi upacara jumenengnya Sinuhun XIV ngaten. Nggih, matur nuwun," pungkasnya.
Momen upacara adat Jumenengan ini mendapat tanggapan dari Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Purbaya, GKR Penambahan Timoer Rumbay. Ia menyebut acara tersebut merupakan upacara adat untuk dokumentasi revitalisasi Keraton Solo.
"Kalau menurut saya, kemungkinan acara itu adalah revitalisasi upacara adat untuk dokumentasi Kementerian Kebudayaan," katanya ditemui di Talang Paten, Keraton Solo, Sabtu (5/9/2026) malam.
Ditanya mengenai maksud pernyataannya, Rumbay mengatakan bahwa hal tersebut sesuai dengan SK yang diterima oleh Lembaga Dewan Adat (LDA).
"Sesuai dengan SK yang didapatkan Lembaga Dewan Adat, memang mereka merevitalisasi bangunan serta upacara-upacara adat. Kemungkinan itu tujuannya," ucapnya.