NADIKABAR.COM โ Sabtu (5/9), Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi menghelat upacara adat Jumenengan di Keraton Solo. Sejumlah pusaka keraton dikeluarkan untuk mengiringi momen Jumenengan itu.
Diketahui, PB XIV Mangkubumi berjalan dari Kedhaton menuju Sitihinggil. Ia kemudian berdiri di depan Meriam Nyai Setomi yang merupakan peninggalan Sultan Agung, sebelum beranjak ke pagelaran dan menyampaikan ikrar.
"Insun ngundangake ana sanduwure Sela Tri Denta, yen ingsun wis kajumbunngake ing ari tumpak kasih 22 mulud 1960 kanthi jejuluk Kanjeng Dalem ingkang sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama kaping 14. Sabanjure ingsun kang mbacutake minangka pangreksaning hukum adat, lan sakabehe kang padha suwitani ngadep ing Kraton Surakarta padha nindakake gawa gawe. Rahayu, rahayu, rahayu," ikrar PB XIV Mangkubumi di Pagelaran, Sabtu (5/9/2026).
Setelah dari Pagelaran, PB XIV Mangkubumi menuju Mangguntur Tangkil di Sitihinggil, tepat di hadapan Meriam Nyai Setomi. PB XIV Mangkubumi menyampaikan ikrar kesanggupan untuk memikul amanah serta menjalankan perintah para leluhur sesuai tata upacara turun-temurun.
"Bismillahirrohmanirrohim. Kanthi nyebut asmaning Gusti Allah SWT, ingsun sumpah prasapa, ana sandhuwuring sila, kajuwan polowing amuntun, kanthi yรจn ingsun wus kajuwengaken, ing ari tumpak asih, 21 wulan B, 1160, kanthi jejuluk: Sampeyan Dalem Ngarso Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Abdulrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping 14, nunjuk syukur marang Gusti Allah kang murba amisesa jagad raya ya sonjine, mring ingsun begedhake leluhur-leluhur, leluhur para leluhur ngrumat mataram Islam kanthi runt-temurun, rahayu, bahayu, rahayu," ikrar PB XIV Mangkubumi di Sitihinggil.
Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Mangkubumi yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GRAy Koes Moertiyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng, menjelaskan seluruh rangkaian ini merupakan wujud kepatuhan terhadap tata adat pakem keraton.
"Rangkaian acara dalam rangka melengkapi bertakhtanya Sinuwun Paku Buwono XIV akan dimulai sejak sore hari," ujar Gusti Moeng dalam keterangannya yang diterima NadiKabar.
Ia mengatakan PB XIV Mangkubumi menyampaikan ikrar kesanggupan untuk memikul amanah serta menjalankan perintah para leluhur sesuai tata upacara turun-temurun.
"Di Mangguntur Tangkil, Sinuwun akan menyampaikan kesanggupannya untuk menjalankan apa yang menjadi amanah dan perintah para leluhur melalui pagelaran atau prosesi adat yang telah diwariskan," ungkap Gusti Moeng.
Gusti Moeng melanjutkan, persiapan Jumenengan PB XIV Mangkubumi dilakukan selama sepekan. "Alhamdulillah sudah jangkep selesai. Persiapan sebetulnya saya ya satu minggu untuk keseluruhan ini, memang kami juga menginginkan supaya tidak ada yang kececer. Semua protokol keraton itu kan bersumber dari gamelan," tuturnya.
Total, ada 13 perangkat yang digunakan untuk menyukseskan Jumenengan. Termasuk perangkat gamelan era PB IX tahun 1872, yang baru dikeluarkan pada kali ini.
Gamelan tersebut bernama Kyai Udan Arum dan Udan Asih, yang selama ini disimpan di Pradonggolor (Pusat Musik).
"Gamelan itu juga biasa dipakai mengiringi beliau saat memainkan wayang, karena beliau pintar mendalang juga," lanjutnya.
Tanggal Jumenengan Disiapkan Sejak Bulan Lalu
Dikatakan Gusti Moeng, tanggal pelaksanaan Jumenengan dihitung sejak bulan lalu, tepatnya berdasarkan perhitungan hari kelahiran PB XIV Mangkubumi dan berdirinya Keraton Solo.
"Tanggal itu sebetulnya sudah kita cari sejak sebulan yang lalu. Cuma, hari yang paling baik-dihitung dari hari kelahiran Sinuwun dan hari berdirinya keraton jatuhnya ya hari ini," terangnya.
Dia menjelaskan prosesi Jumenengan PB XIV Mangkubumi dimulai dari dalam Keraton Solo lalu keluar menuju Pagelaran dan Siti Hinggil mengucapkan ikrar.
"Tadi kan prosesinya keluar langsung menuju ke Pagelaran berdiri di Watu Gilang juga mengucapkan hal yang sama seperti di Siti Hinggil Manguntur Tangkil, di sana kan para pangrawit diiringi dengan tampilan-tampilan. Alhamdulillah, ada beberapa pusaka yang dimiliki oleh keraton dan tersimpan di beberapa tempat, kami kumpulkan untuk mengiringi Sinuhun tadi," jelasnya.
"Intinya, beliau bersumpah untuk meneruskan benang merah dari Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram. Beliau bersumpah untuk bisa menjadi pengayom dan menjadi pengikat semua sentono serta abdi dalem yang hadir saat itu kami batasi sekitar 2.500 orang," jelasnya.
Dalam Jumenengan tersebut, tidak ada kirab keliling kota. Gusti Moeng berdalih berkaitan dengan proses revitalisasi yang masih berjalan.
"Saya memang menyampaikan kepada pemerintah, dalam hal ini kepada Pak Menteri Kebudayaan, supaya menyampaikan kepada Bapak Presiden bahwa kami ini sedang menyelesaikan upacara adat yang harus kami penuhi. Nanti kirabnya dilaksanakan setelah selesai revitalisasi, insyaallah begitu," ungkapnya.
Selain itu, ada pula pergantian busana atau ageman yang dikenakan oleh PB XIV Mangkubumi selama prosesi di Siti Hinggil dan Sasana Sewaka.
"Kalau yang tadi itu Sekepan Ageng, sedangkan yang ini Takwo. Nggih, karena di sini posisinya lenggah siniwoko. Kalau di sana kan di Manguntur Tangkil. Memang beda, biasanya kalau ageman seperti itu langsung dirap. Tapi karena beliau tidak kirap, ya hanya sampai di Pagelaran saja," paparnya.
Ditanya mengenai tanggal tingalan jumenengan, Gusti Moeng mengaku akan melakukan rembukan terlebih dahulu. Menurutnya, Jumenengan PB XIV Mangkubumi sudah dilaksanakan pada 13 November 2025 dan hari ini untuk melengkapi prosesi Jumenengan.
"Itu akan kami rembuk bersama, karena sebetulnya kita kan sudah jumeneng pada tanggal 13 November 2025. Nah, ini judulnya untuk melengkapi upacara jumenengnya Sinuhun XIV ngaten. Nggih, matur nuwun," pungkasnya.
Momen upacara adat Jumenengan ini mendapat tanggapan dari Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Purbaya, GKR Penambahan Timoer Rumbay. Ia menyebut acara tersebut merupakan upacara adat untuk dokumentasi revitalisasi Keraton Solo.
"Kalau menurut saya, kemungkinan acara itu adalah revitalisasi upacara adat untuk dokumentasi Kementerian Kebudayaan," katanya ditemui di Talang Paten, Keraton Solo, Sabtu (5/9/2026) malam.
Ditanya mengenai maksud pernyataannya, Rumbay mengatakan bahwa hal tersebut sesuai dengan SK yang diterima oleh Lembaga Dewan Adat (LDA).
"Sesuai dengan SK yang didapatkan Lembaga Dewan Adat, memang mereka merevitalisasi bangunan serta upacara-upacara adat. Kemungkinan itu tujuannya," ucapnya.