Kata gandrung bermakna terpikat atau mencintai, dan dalam perjalanannya, tari ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Banyuwangi yang terus diwariskan lintas generasi.
"Melalui Gandrung Sewu, pelestarian budaya juga berjalan beriringan dengan regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat," tuturnya.
"Tahun 2026, perjalanan panjang itu memasuki babak baru, dan untuk pertama kalinya Gandrung Sewu digelar pada malam hari, menghadirkan pengalaman berbeda melalui perpaduan seni tradisi, tata cahaya dan teknologi pertunjukan," katanya.