"Ketapang-Gilimanuk menjadi urat nadi konektivitas Jawa-Bali, dan infrastruktur pelabuhannya harus dirancang bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi untuk kebutuhan 10, 20 bahkan 30 tahun ke depan," ucap dia.
Khoiri menegaskan bahwa persoalan kapasitas di lintasan Ketapang-Gilimanuk tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah kapal berukuran besar, karena saat ini kapal berukuran relatif besar telah mencapai lebih dari separuh armada yang tersedia.
"Tantangan utamanya justru bagaimana menyediakan dermaga yang memadai agar kapal yang sudah tersedia, baik besar maupun kecil, dapat beroperasi secara optimal," tutur dia.
Dia menyampaikan bahwa lintasan Ketapang-Gilimanuk membutuhkan kapal besar dan kapal kecil, karena keduanya mempunyai fungsi masing-masing, dan persoalannya bukan semata-mata ukuran kapal, tetapi apakah dermaga yang tersedia mampu melayani kapal-kapal tersebut.
"Keberadaan kapal dengan berbagai kapasitas justru diperlukan untuk memberikan fleksibilitas dalam pengaturan operasional, misal pada kondisi peak season, kapal dengan kapasitas lebih besar dapat dioptimalkan untuk mengangkut lonjakan kendaraan, sedangkan pada periode off-peak, kapal dengan kapasitas lebih kecil dapat dioperasikan menyesuaikan permintaan," kata Khoiri.