Bandung menyatakan untuk memenuhi permintaan di masa depan, diperlukan fokus terhadap aspek keberlanjutan maupun produktivitas. Mengingat peran penting Indonesia, keberlanjutan terkait penggunaan atau perluasan lahan dan produktivitas harus menjadi perhatian utama.

Dia menilai seiring dengan pertumbuhan populasi di Indonesia dan dalam skenario produksi minyak kelapa sawit tidak bertumbuh secara signifikan, Indonesia akan mengalami defisit suplai sebesar 27 juta metrik ton (MT) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

Sejak pemberlakuan moratorium atas ekspansi perkebunan kelapa sawit oleh sektor swasta, Gapki mencatat pertumbuhan ekspansi lahan telah menurun. Menurutnya, jika area tertanam tidak kunjung bertumbuh, CPO domestik harus memiliki yield sekitar 5 MT/ha per tahun untuk memenuhi kebutuhan.

Di tengah tantangan dan besarnya kebutuhan atas industri ini, Bandung menilai penting untuk meningkatkan produktivitas, konversi lahan yang terkontrol, dan pengembangan agrikultur maritim untuk memastikan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Dengan kata lain, pengendalian alih fungsi lahan secara ketat diperlukan agar area produktif tidak tergerus oleh alih fungsi non-pertanian.

Selain itu, ketersediaan pusat pendidikan dan inovasi teknologi pertanian juga dinilai menjadi fondasi strategis atas cita-cita mencapai Indonesia Emas 2045. Melalui adopsi teknologi tepat guna, efisiensi operasional dapat ditingkatkan secara signifikan.