"Tekanan datang bersamaan dari harga bahan bakar, pelemahan rupiah, dan periode low season," kata Alvin dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Sementara itu pengamat penerbangan Gerry Soejatman menyebut avtur berkontribusi lebih dari separuh biaya maskapai, sementara 90 persen biaya penerbangan menggunakan mata uang asing sehingga menekan margin akibat kenaikan harga.
Diketahui, beban avtur Garuda pada semester I 2026 naik 43,6 persen menjadi 677,6 juta dolar AS. Pada kuartal II, kenaikannya mencapai 90 persen secara tahunan. Porsi avtur terhadap pendapatan naik menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian EBIT perseroan naik 12,7 persen menjadi 74,0 juta dolar AS dari 65,7 juta dolar AS. EBITDA tumbuh 5,8 persen menjadi 431,6 juta dolar AS.