NADIKABAR.COM — Gempa Flores berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT). Gangguan rantai pasok, kerusakan lahan pertanian, hingga aktivitas pasar yang terganggu menjadi tekanan baru bagi ekonomi daerah.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan ada dua tantangan utama yang harus diantisipasi pada masa tanggap darurat dan pascagempa, yakni potensi peningkatan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Hal itu disampaikan Laka Lena dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pembahasan Perekonomian Daerah ke-VII yang dirangkaikan dengan FGD Strategi Pemulihan Ekonomi Pascagempa Flores di Kupang, Jumat (4/9/2026).

"Gempa Flores tidak hanya meninggalkan duka mendalam dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memberikan guncangan nyata pada stabilitas ekonomi kita. Ketika jalur logistik terputus, lahan pertanian rusak, dan aktivitas pasar terganggu, dampaknya langsung terasa pada supply chain di seluruh wilayah NTT," terangnya.

Laka Lena menyebut inflasi NTT pada Agustus 2026 tercatat 2,59 persen, naik dari Juli 2026 sebesar 2,43 persen.

"Angka ini sedikit naik dibanding Juli 2026 sebesar 2,43 persen, dan masih dalam sasaran 2,5 persen," tukas dia.

Ia mengingatkan gangguan distribusi dan pasokan komoditas pangan pascagempa harus segera diatasi.