Di sisi lain, Langgoi Ursil mengaku ikan mentah yang masuk ke Nagekeo berasal dari nelayan dari Sulawesi, bukan nelayan lokal Nagekeo.

"Memang stok ikan ada, tetapi tidak banyak. Itu juga kami beli dari nelayan Sulawesi yang jual ke sini karena kami semuanya belum berani melaut," ujar Langgoi diamini Alman Saman di sampingnya, Minggu (6/9/2026).

Selain perahu dan alat tangkap nelayan, bencana gempa juga merusak hampir 100 lebih hektar tambak garam di Kelurahan Mbay 2, Kecamatan Aesesa. Kerusakan terjadi pada wadah menjemur garam dan jalan produksi untuk mobilisasi hasil yang rusak parah.

Kondisi tersebut mengakibatkan garam yang sudah diproduksi masih menumpuk di lokasi karena tak bisa diangkut setelah jalan masuk rusak parah. Namun, BPBD Nagekeo telah mengambil langkah dengan menggelontorkan sejumlah anggaran untuk mengerjakan kembali jalan yang rusak tersebut.

"Karena apabila diangkut kecuali dipikul, tapi itu per karung Rp 10 ribu. Sehingga hal ini BPBD juga sudah alokasikan anggaran BBM untuk diisi ke alat berat milik petani garam agar bisa kerja jalan yang rusak," terang Oliva.

Menurut Oliva, berdasarkan pendataannya, hingga Agustus 2026 ini, jumlah produksi garam di Kelurahan Mbay 2 mencapai 7.000 lebih ton. Sementara jumlah produksi per tahun rata-rata 15.000 ton.

"Dan pasarnya itu semua keluar, seperti di Surabaya dan Palembang. Tetapi tahun ini, petani garam mengeluh karena harga jual menurun," pungkas Oliva.