"Sebenarnya rindu kepingin masuk laut, tetapi masih trauma karena saat kejadian kan anak saya ini nyaris tertimpa lemari saat guncangan," terang Alman.
Meski rumahnya mengalami kerusakan, ia tak tetap enjoy karena masih selamat. Namun, suatu hal membuatnya trauma ketika kejadian gempa, ia bersama 15 nelayan lainnya sedang berada di tengah laut, tepatnya di perairan Riung, Kabupaten Ngada.
Kala itu, guncangannya sangat terasa hingga perahu yang ditumpanginya terombang-ambing. Selain itu, kondisi air laut mengalami perubahan seperti memutar-mutar dan membuat lingkaran.
"Kami semua panik dan was-was. Beruntung hanya beberapa saat saja," kata Alman.
Setelah itu, mereka memutuskan kembali ke Nangadhero. Saat beberapa meter sebelum lego jangkar, mereka melihat barang-barang seperti jeriken, coolbox, dan perabot rumah lainnya, di tengah laut. Mereka kemudian memungut ke atas perahunya.
"Kami kira ada kapal yang tenggelam karena banyak barang-barang terapung di laut," beber Alman.
Saat tiba di darat, Alman merasa kaget lantaran tak ada satupun warga yang terlihat beraktifitas seperti biasanya untuk menjemur ikan dan mengecek kondisi perahunya. Kemudian, perahu-perahu yang berada di tepi pantai juga tak ada lagi.
Hal itu, membuat insting Alman menduga adanya gempa bumi dan tsunami. Saat mengecek ke rumahnya, istri, anaknya dan tetangga juga tak ada lagi. Ia kemudian bergegas mencari mereka.