"Syukur ternyata mereka sudah mengungsi ke tempat aman di Aeramo," jelas Alman.

Nelayan lainnya, Langgoi Ursil (44), mengisahkan saat kejadian dirinya sedang memancing dengan perahunya di tengah laut. Ia sempat merasakan perahu dayungnya terombang-ambing dan nyaris kemasukan air.

"Jadi saat itu saya lihat gelombang di pinggir laut itu sekitar tiga meter. Saya mau turun dari perahu juga sangat takut karena gelombang sangat tinggi," kata Ursil.

Ia mengaku saat ini masih takut melaut karena kondisi air lautnya masih kabur dan belum stabil sehingga dipastikan tidak ada ikan yang bermain. Kemudian terjadi gelombang besar yang tidak seperti biasanya.

"Itu yang menakutkan. Kami ini sejak kecil sudah melaut makanya kemarin saya lihat air lautnya, itu masih kabur jadi kalau paksa melaut otomatis tidak dapat hasil," terang Ursil.

Menurut Ursil, saat ini stok ikan mentah di Desa Nangadhero sangat terbatas dan didapati dari nelayan luar yang datang menjual. Selain itu, sejumlah perahu nelayan juga rusak total dihantam gelombang saat gempa.

"Sebelumnya kami yang menjual, tetapi sekarang ini kami kembali membeli ikan dari luar karena sudah terbiasa makan ikan, jadi kalau tidak ada ikan, kami merasa tidak nyaman begitu," pungkas Ursil.