Untuk memperluas pasar, GEMS turut mengincar negara alternatif seperti Filipina. Harga batu bara pada 2026 diperkirakan relatif stabil.
BBRM telah menyelesaikan pembelian kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) MP Maverick jenis 80T BP dengan kapasitas 6.000 BHP dari Great Union China Limited.
Nilai transaksi mencapai USD12,10 juta. Kapal tersebut telah diserahterimakan dan siap digunakan untuk kegiatan operasional. Pembelian dibiayai melalui pinjaman investasi dari Bank IBK senilai Rp120 miliar.
Harga pembelian kapal tercatat lebih rendah dibandingkan nilai pasar berdasarkan penilaian independen KJPP yang mencapai Rp230,91 miliar per 28 September 2026.
Nilai transaksi tersebut setara dengan 31,80% ekuitas BBRM per 31 Desember 2024 yang tercatat USD38 juta. Karena perjanjian pembelian awal telah ditandatangani pada 30 Oktober 2024, transaksi tersebut tidak memerlukan persetujuan RUPS berdasarkan basis materialitas yang digunakan perseroan.
Penambahan kapal ini memperkuat bisnis kapal penunjang lepas pantai BBRM. Pada 1H26, segmen tersebut menyumbang USD6,21 juta atau sekitar 93,41% dari total pendapatan, naik 13,67% secara tahunan dari USD5,46 juta pada 1H25.
Sebaliknya, pendapatan dari segmen self-propelled barge turun 69,20% menjadi USD0,44 juta.
BRNA menjalankan rights issue atau PMHMETD III dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 543,95 juta saham baru. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp685 per saham, sehingga nilai emisi maksimal mencapai Rp372,61 miliar.
Dalam aksi korporasi tersebut, BRNA juga akan menerbitkan 181,32 juta Waran Seri I secara cuma-cuma dengan rasio 3:1. Waran tersebut memiliki harga pelaksanaan Rp800 per saham.
Sebagian besar dana rights issue, yakni sekitar 70,95% atau Rp264,38 miliar, akan digunakan untuk menyelesaikan pokok utang kepada pemegang saham utama PT Dwi Satrya Utama (DSU). Pelunasan dilakukan melalui konversi utang menjadi saham atau set-off sehingga bagian tersebut tidak menghasilkan penerimaan kas.