"Iya ibu saya sakit kanker payudara, (termotivasi jadi dokter) karena melihat keluarga saya banyak yang mempunyai riwayat sakit yang cukup berat, dan membutuhkan perawatan intensif dari pihak dokter," terang Fina.
"Karena menurut saya menjadi seorang dokter bukan hanya tentang profesi, tapi merupakan salah satu perpanjangan tangan yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan jiwa yang membutuhkan," sambungnya.
Terpisah, Kepala Subdirektorat Admisi UMY, Dr Imam Mahdi, menjelaskan Program beasiswa dokter ini tidak bertumpu pada indikator keluarga kurang mampu saja. Hal ini dibuktikan dengan ketat dan panjangnya proses seleksi calon penerima beasiswa.
Total lima tahapan harus dilewati calon mahasiswa. Mulai dari seleksi berkas yang langsung tersaring 20 terbaik. Kemudian tes kemampuan akademik, lanjut tes Agama Islam dan Kemuhammadiyahan, lalu tes wawancara dengan universitas dan prodi, terakhir verifikasi langsung ke rumahnya.
"Ini layak nggak sih? Tetangga lihat dia gimana, gitu. Jadi tidak hanya verifikasi 'Oh saya seperti ini', tapi dengan lingkungan dia seperti apa. Apa gunanya kita ngasih beasiswa tidak berdampak positif terhadap lingkungan?" ujar Imam kepada detikJogja.
"Jadi ini beasiswa tidak dalam konteks hanya dia intelektual, tidak, tapi bagaimana sosialnya seperti apa. Indikator utama malah sebenarnya di intelektual dia sama kepedulian sosial masyarakatnya. Kita nggak mau ngasih beasiswa akhirnya dia jadi bussinesman, ngapain? Rugi kita," imbuhnya.
Imam pun memerinci nilai dari Fina yang membuatnya lolos seleksi beasiswa ini. Ia kebetulan menjadi perwakilan UMY yang memverifikasi langsung ke tempat tinggal Fina. Imam menceritakan latar belakang keluarga Fina yang membuatnya takjub.
"Fina ini sebenarnya broken home, bapak ibunya cerai sebenarnya, tapi semangatnya luar biasa. Fina itu bahkan, ya tahun kemarin waktu gap year, ibunya nyuruh dia nikah, bapaknya nggak mau, makanya bapaknya narik dia biar bisa belajar fokus," ujar Imam.