Penjara Seodaemun pernah menahan banyak aktivis kemerdekaan selama masa penjajahan Jepang (1910-1945) serta para pejuang gerakan pro-demokrasi setelah pembebasan Korea. Mereka dipenjara dan disiksa di sana.
Sementara itu, pusat interogasi Namyeong-dong adalah fasilitas yang dikenal kejam dan dioperasikan oleh rezim diktator militer Korea pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Para pelaku industri menyampaikan kepada media setempat bahwa situs-situs bersejarah kurang diminati, terutama karena minimnya program yang mampu menarik minat pengunjung asing.
"Orang asing datang ke Korea karena mereka tertarik pada budaya Korea," kata Seo Kyoung-duk, seorang profesor di Universitas Wanita Sungshin.
Ia menambahkan bahwa wisatawan sebenarnya tertarik pada sejarah Korea namun sering kali kurang mendapatkan informasi mengenai situs-situs bersejarah tersebut. Ia pun mendesak pemerintah daerah untuk mengembangkan program wisata sejarah kelam dan mempromosikannya melalui media sosial.