Krisis air bersih mengancam aktivitas wisata di Gili Trawangan. Sebanyak 315 turis mancanegara kabur dari Gili Trawangan imbas krisis air bersih. Nahasnya, demi memenuhi pasokan air, pengelola perhotelan terpaksa menyedot air kolam untuk memenuhi kebutuhan operasional dasar.
Langkah darurat ini diambil pelaku usaha agar tetap bisa memberikan pelayanan prima di tengah puncak musim kunjungan (high season) di Gili Trawangan.
Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB sekaligus Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan, Lalu Kusnawan, mengungkapkan para pelaku perhotelan harus pontang-panting mencari solusi imbas krisis air di kawasan wisata tersebut.
Para pelaku usaha, kata dia, terpaksa membeli air dari luar pulau untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
"Kita beli air dari pinggir, terpaksa sedot air kolam dan lain-lain. Sementara industri saat ini pontang-panting menjaga tamu supaya tetap stay dengan pelayanan prima," ujar Kusnawan, Minggu (6/9) malam.
Artikel ini telah naik di NadiKabar.