Wang Xiongfei, IEEE Fellow dan Xinghua Chair Professor di Tsinghua University, membahas tantangan baru yang muncul dari pusat data AI (AIDC) berskala GW. Ia mengatakan, pusat data masa depan tidak cukup hanya menjadi konsumen listrik berskala besar, namun juga perlu berperan sebagai beban yang ramah jaringan, mampu mendeteksi kondisi jaringan, memberikan dukungan secara proaktif, serta memiliki kemampuan tertentu untuk tetap beroperasi saat terjadi gangguan listrik (fault ride-through). Ia mengusulkan konsep desain kolaboratif dari cip hingga jaringan listrik (chip-to-grid) yang memanfaatkan teknologi seperti penyimpanan energi grid-forming, optimalisasi kontrol UPS, dan coordinated workload shaping guna menciptakan interaksi yang lebih baik antara pusat data dan jaringan listrik, serta menjaga stabilitas infrastruktur komputasi masa depan.
Patrick Clerens, Secretary-General, Energy Storage Europe, menyampaikan paparan bertajuk "European Energy Storage Markets: Market Mechanisms and the Development of GFM Services". Ia menjelaskan bahwa perkembangan mekanisme pasar penyimpanan energi di Uni Eropa mendapat dorongan dari kebutuhan menjaga keamanan pasokan dan reformasi desain pasar listrik. Menurutnya, lonjakan porsi energi terbarukan menyebabkan inersia sistem menurun sehingga kemampuan grid-forming menjadi kebutuhan yang semakin penting. Ia turut menguraikan eksplorasi berbasis pasar di Eropa untuk layanan grid-forming, seperti inersia sintetis dan dukungan frekuensi cepat. Ia juga menyebut bahwa Jerman dan sejumlah negara lain mulai melelang kemampuan grid-forming sehingga membuka model bisnis baru dan peluang bagi sektor penyimpanan energi.
Dr. Liu Yunfeng, Chief Scientist, Huawei Digital Power, menyampaikan paparan bertajuk "Grid Forming + AI: Powering the Energy Internet's Silicon Evolution". Ia mengatakan, sistem tenaga listrik tengah beralih dari "sistem elektromagnetik-mekanis" menjadi "sistem terprogram berbasis silikon", sementara stabilitas sistem bergeser dari "atribut alami" menjadi "kemampuan yang dirancang". Ia memperkenalkan sistem verifikasi terpadu Huawei di bidang teknologi grid-forming dan menegaskan bahwa AI bukan fitur opsional bagi Internet of Energy, melainkan kemampuan penting agar sistem kompleks dapat beroperasi secara mandiri. FusionSolar Agent dari Huawei, didukung arsitektur AI empat lapis yang mencakup fondasi komputasi, model tenaga listrik, perangkat cerdas, dan agen, mendefinisikan ulang pengelolaan pembangkit secara cerdas sepanjang siklus hidupnya, serta meningkatkan teknologi cerdas secara menyeluruh pada sistem tenaga surya PV, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan penyimpanan energi.
Membuktikan Standar Lewat Praktik: Dari Sertifikasi hingga Verifikasi Proyek PV+ESS Terbesar di Dunia