Golkar memiliki pengalaman panjang dalam sejarah kekuasaan Indonesia. Pengalaman itu harus menjadi modal untuk menjaga republik, bukan sekadar untuk menyesuaikan diri dengan siapa pun yang sedang berkuasa. Partai yang besar bukan partai yang selalu ikut arus, melainkan partai yang mampu mengarahkan arus ketika kepentingan bangsa dipertaruhkan.

Di usia ke-62 tahun, Golkar harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar partai yang kuat secara organisasi, tetapi juga kokoh secara moral dan matang secara kenegaraan. Regenerasi harus dibuka bagi kader muda yang berintegritas, kompeten, dan berani berpikir kritis-bukan sekadar pandai membangun kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Bangsa ini tidak membutuhkan partai yang hanya sibuk menghitung kursi. Bangsa ini membutuhkan partai yang mampu menjaga arah. Sebab kursi dapat berpindah pada setiap pemilu, tetapi arah bangsa yang salah dapat membuat satu generasi kehilangan masa depan.

Golkar harus memilih peran itu: menjadi partai tengah yang tidak tunduk pada ekstremisme, tidak larut dalam politik dagang, dan tidak diam ketika konstitusi dilemahkan. Sebab dalam politik, yang paling berbahaya bukan hanya mereka yang ingin merusak negara, tetapi juga mereka yang tahu negara sedang diselewengkan namun memilih diam demi tetap kebagian tempat.

Selamat ulang tahun ke-62 Partai Golkar. Kini saatnya membuktikan bahwa 'karya kekaryaan' bukan sekadar janji politik, melainkan jalan menjaga Indonesia tetap utuh, produktif, berdaulat, adil, dan demokratis.

Bambang Soesatyo. Anggota Wantimpres RI, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ketua MPR RI ke-15 dan Dosen Pascasarjana (S3) Ilmu Hukum Universitas Borobudur.