"Ada pula pesan, "Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung", yang panjang tidak boleh dipotong, yang pendek tidak boleh disambung," tambahnya.

Menurutnya, nilai-nilai dalam aturan adat tersebut relevan sebagai pedoman dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Prinsip itu juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan dampak tindakan manusia terhadap kehidupan generasi mendatang.

"Nilai-nilai ini mengajarkan kepada kita untuk menerima dan menjaga alam sebagaimana adanya, tidak mengambil secara berlebihan, dan selalu memikirkan generasi yang akan datang," tuturnya.

Penerapan nilai-nilai tersebut turut menjadi landasan dalam Gerakan Menanam 70 Ribu Bibit Tanaman Pohon yang menyasar huma masyarakat adat Baduy. Ia menambahkan sebanyak 70.000 bibit telah disalurkan ke 68 kampung, yang terdiri atas tiga kampung Baduy Dalam dan 65 kampung Baduy Luar.

Andra menambahkan, untuk mendukung fungsi lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, gerakan tersebut memanfaatkan beragam jenis tanaman. Pemilihan tanaman ini diharapkan dapat membantu menjaga tutupan lahan dan ketersediaan sumber mata air.

"Jenis tanaman yang dipilih juga sangat tepat, di antaranya gaharu, manglid, durian, albasia, rambutan, dan aren. Tanaman-tanaman ini tidak hanya berfungsi menjaga tutupan lahan dan sumber mata air, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat," ungkapnya.

Agar manfaat penanaman dapat dirasakan dalam jangka panjang, Andra menekankan pentingnya pengelolaan hasil tanaman secara optimal. Dengan perawatan dan pengelolaan yang baik, tanaman yang ditanam diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat Baduy.

"Kami mendorong agar hasil tanaman dari gerakan ini dapat dikelola dengan baik, sehingga dalam beberapa tahun ke depan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Baduy," ujar Andra.

Untuk memastikan gerakan tersebut berjalan berkelanjutan, Andra menyampaikan tiga hal yang perlu menjadi komitmen bersama.