NADIKABAR.COM — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengatakan konferensi internasional The 2nd International Conference on Environmental Sciences, Agriculture, and Sustainability (ICESAS) 2026 menjadi wadah kolaborasi riset untuk mendukung pembangunan daerah dalam pengelolaan lingkungan, pengembangan pertanian, dan ketahanan pangan.
“Saya minta kerja sama internasional yang dilakukan Universitas Pattimura menjadi ajang penelitian bersama, pertukaran keahlian, transfer teknologi, dan program nyata yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” kata Lewerissa saat membuka ICESAS 2026 di Maluku Tengah, Rabu.
Ia mengatakan, kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat diperlukan untuk menghasilkan solusi pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan daerah serta berorientasi pada keberlanjutan.
Menurutnya, lingkungan, pertanian, dan keberlanjutan merupakan tiga aspek yang saling berkaitan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang.
“Lingkungan, pertanian, dan keberlanjutan bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri. Ketiganya saling berkaitan dan menentukan bagaimana kita memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan kehidupan generasi yang akan datang,” ujarnya.
Lewerissa menjelaskan, Maluku sebagai provinsi kepulauan memiliki kekayaan ekosistem laut, pesisir, hutan tropis, serta potensi pertanian yang beragam. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui penelitian dan inovasi agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun, pemanfaatan sumber daya alam juga harus diimbangi dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, hasil penelitian dan kajian ilmiah dibutuhkan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat dan berkelanjutan.
Ia menekankan, perguruan tinggi, khususnya Program Pascasarjana Universitas Pattimura, memiliki peran strategis sebagai mitra Pemerintah Provinsi Maluku dalam memperkuat perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berbasis data serta bukti ilmiah.
“Kontribusi akademisi diperlukan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab, meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat secara adil,” kata dia.
Dia berharap ICESAS 2026 tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan antarakademisi, tetapi menghasilkan rekomendasi dan kerja sama riset yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di daerah kepulauan.
Konferensi internasional yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Pattimura itu turut dihadiri Direktur Pascasarjana Universitas Pattimura yang mewakili rektor, perwakilan Forum Pimpinan Pascasarjana se-Indonesia, pimpinan dan sivitas akademika, serta para pembicara utama.