"Kita melihat permasalahan, dan pendekatan kita transformasi teknologi. Revolusi 4.0. Mau nggak mau kan kita bawa permasalahan yang ada, khususnya pada permasalahan sampah, kita jawab dengan teknologi," ujarnya.

Masyarakat dan pengurus melakukan diskusi guna menyelesaikan masalah sampah yang mengganggu. Untuk membuat biopori jumbo atau teba -- lubang yang dikembangkan secara modern sebagai lubang komposter untuk mengolah sampah organik -- mereka kekurangan lahan.

"Itu kan membutuhkan waktu lama, belum lagi nanti ada komplain dari masyarakat, "Pak kenapa bikin di sini? Kan, saya yang rumahnya di lintasan kena baunya", dan sebagainya," Ibas menimbang-nimbang. Apalagi tidak semua warganya punya tanah di sana, tak sedikit juga yang tinggalnya mengontrak.

Setelah melakukan identifikasi masalah, tercetus ide 'Komling'.

RT 11 mencoba menyelesaikan masalah sampah di tingkat hulu, sebab di hilir pun (contohnya di Bantargebang), sudah ada pembatasan.

"Harus kita jemput bola. Ternyata cukup efektif, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat kita," kata lulusan program studi Magister Administrasi Publik (MAP) di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) tersebut.

Dengan jemput bola, masyarakat dapat teredukasi tentang cara memilah sampah organik dan anorganik. Pertamanya, masyarakat berpikir semua sampah sama saja sehingga membuat sampahnya tidak dipilah terlebih dahulu.

"Mereka berpikir, "Sampah semua itu". Ada plastik, ya dimasukin. Ada karet, masukin tali, masukin itu juga. Jadi, semua komponen masih dianggap sama. Wah, ini kalau masuk sampah ini rusak mesin saya," kenangnya sembari tertawa kecil.

Akhirnya Ibas dan pengurus RT berupaya memberi pandangan dan solusi. Mereka diberi tahu bahwa tong ini khusus pilah sampah sampai mereka paham perbedaan sampah organik, anorganik, dan sampah B3.