"Kami juga memberikan sosialisasi lewat lomba waktu 17-an. Kita memilih jalur yang agak lain, kalau biasanya di lingkungan lain itu ada tarik tambang, makan kerupuk, balap karung, kita nggak," aku Ibas.
Mereka melakukan lomba yang disebut 'battle pilah sampah'. Dengan game ini, anak-anak menjadi teredukasi jenis-jenis sampah hingga tahu cara memilah sampah. Alih-alih dengan gaya yang resmi, Ibas meyakini cara tersebut akan lebih tertanam di otak anak-anak.
"Secara tidak langsung ke doktrin, "Oh, ini sampah organik", jadi mereka tahu. Itu sesuatu yang menarik. Di sini pun ada detektif lingkungan juga lomba tentang jingle kita (untuk diputar saat Komling beroperasi setiap sore hari -- red)," jelasnya.
Kami sempat coba naik Komling, pembaca. Bentukan seperti sepeda listrik, jadi bisa dikayuh, namun juga bisa digas maju mundur. Saat berjalan, akan ada jingle yang memberi tahu warga bahwa sudah saatnya mereka menyumbang sampah organik mereka untuk dijadikan kompos.
Sekali mengumpulkan, sampah organik yang ada bisa mencapai 10 kg. Hasil dari kompos akan dibagikan ke warga guna membantu menyuburkan tanaman yang mereka tanam di pot depan rumah (ada kangkung, cabai, tomat, ah pokoknya beragam!) sampai diberikan untuk pakan ikan lele, nila, juga bawal.
Ikan-ikan dan sayur yang ada tidak ada yang dijual, semua dibagikan kepada warga yang menginginkannya. Tinggal lapor Pak RT saja, semua warga kebagian.
Oh iya, selain Komling, ada juga mesin Koma (komposter mandiri) juga sampah geprek (untuk memipihkan sampah botol sehingga lebih mudah didaur ulang). Semua ada di lapangan tempat warga RT 11 berkumpul. Sampah geprek nantinya akan dijual kepada pengepul dan hasilnya digunakan untuk keperluan pembangunan lingkungan mereka kembali.
**Inovasi di RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tidak terbatas pada E-Gate dan pembagian GPS tracker saja. Simak di artikel NadiKabar selanjutnya untuk mengetahui lebih lanjut soal RT teladan ini**