NADIKABAR.COM — Erupsi dan letusan Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 turut dilaporkan media asing berbagai negara. Sementara itu, konten kreator luar negeri merilis ulasan tentang Gunung Krakatau dan letusan dahsyatnya pada 1883.
Perlu diketahui, Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau (GAK) merupakan gunung yang berbeda. Namun, sejarah keduanya dapat ditarik dari Gunung Krakatau Purba di Selat Sunda. Lantas, apa saja perbedaannya?
Prof Dr Ir Dian Fiantis, MSc dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas (Unand), Krakatau Purba diperkirakan mengalami erupsi besar sekitar abad ke-5-6 M.
Kaldera atau cekungan di puncak Krakatau Purba pun runtuh. Sedangkan bagian tubuh gunung yang terisa membentuk Pulau Sertung dan Pulau Panjang.
Gunung Krakatau kemudian terbentuk dari aktivitas vulkanik di sana. Ada tiga puncak Krakatau yang terbentuk, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan.
Namun, letusan Krakatau 1883 yang dahsyat menghancurkan puncak Danan dan Perbuwatan. Rakata tersisa sebagian.
Sedangkan Gunung Anak Krakatau (GAK) terbentuk di tepi kaldera 1883 tersebut pada kedalaman 200-300 meter. GAK pertama kali mulai meletus pada 1927 dan muncul di atas permukaan laut pada tahun 1929, dikutip dari International Tsunami Information Center (ITIC), Komisi Oseanografi Antarpemerintah (IOC)-Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).