Gunung Krakatau yang meletus pada 1883 melontarkan sekitar 12-20 km kubik material, dengan suara meletus yang terdengar sampai ke Pulau Rodriguez di Mauritius, Samudra Hindia.
Sedangkan Gunung Anak Krakatau kembali memulai periode erupsi Strombolian yang sangat aktif sejak 2018. Jenis erupsi ini merupakan ciri khas Anak Krakatau sejak muncul sekitar 90 tahun lalu.
Berbeda dengan erupsi Krakatau, jenis erupsi Strombolian di Anak Krakatau ditandai dengan magma yang relatif encer dan pelepasan gas terputus-putus, dikutip dari laman Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dijelaskan ITIC, periode Strombolian biasanya berlangsung beberapa bulan. Pada periode ini, sebagian besar lava, bom magma, tephra (pecahan batuan vulkanik), abu, dan gas vulkanik dilepaskan.
Sedangkan pada September 2026, masih tercatat 14 kali erupsi Strombolian hingga Jumat (11/9) pukul 06.00 WIB setelah periode erupsi menerus berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB, seperti dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Arus piroklastik atau longsoran gas panas, abu, dan pecahan lava akibat letusan Gunung Krakatau 1883 bergerak cepat ke laut. Hal ini mendorong volume air hingga terjadi tsunami setinggi 40 meter. Sekitar 38.000 orang menjadi korban jiwa.
Sebagai perbandingan, tsunami Aceh 26 Desember 2024 setinggi 20 meter, dikutip dari laman Sains Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA).