Sedangkan tsunami vulkanik 22 Desember 2018 disebabkan oleh keruntuhan badan Gunung Anak Krakatau bagian barat. Akibatnya, muncul ombak setinggi 80 m di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Pada pesisir Banten dan Lampung, ketinggian ombak mencapai 13 m. Sebanyak 437 orang menjadi korban jiwa, 14.059 orang luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal.
Keruntuhan badan Anak Krakatau menyebabkan Lebih dari 50 persen massa Pulau Krakatau hilang, seperti dijelaskan dosen Program Studi Teknik Geologi ITB Dr Mirzam Abdurrahman dalam laman kampus. Bukan karena arus piroklastik, Mirzam menilai peristiwa tersebut merupakan hasil destabilitasi sejak lama.
"Lokasi dan jangkauan dari keruntuhan tahun 2018 mungkin juga ditimbulkan oleh keadaan struktural dari margin kaldera, diskontinuitas struktural internal, dan lokasi dari ketidakstabilan sebelumnya," ucapnya.
Berdasarkan catatan sonar laut, keruntuhan Anak Krakatau saat itu juga karena ketidakstabilan secara gravitasi.
"Sonar laut juga menunjukkan jika gunung Anak Krakatau berdiri melebar di atas tubuh dinding kaldera yang terbentuk pada 1883, kemungkinan mengakibatkan ketidakstabilan secara gravitasi," kata Mirzam.