Ia menjadi semacam dokumentasi pemikiran seniman Indonesia pada masa ketika pembangunan, modernisasi, pariwisata, dan masuknya budaya asing sedang bergerak semakin cepat.

Salah satu cerita paling menarik justru datang dari "Barong Gundah".

Komposisi ini lahir dari eksperimen Guruh menggunakan sebuah piano tua yang kondisinya sudah tidak sempurna. Beberapa nada pada piano tersebut terdengar sumbang, tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang dimanfaatkan untuk mencari warna baru.

Guruh kemudian mencoba mempertemukan bunyi piano tersebut dengan gending barong pada gamelan Bali.

Hasilnya terdengar asing, ganjil, bahkan "semrawut" jika dibandingkan dengan bentuk musik yang lebih konvensional. Karena itulah komposisi tersebut diberi nama "Barong Gundah".

Kisah itu menarik karena menunjukkan bahwa eksperimen Guruh Gipsy tidak selalu dimulai dari perangkat musik yang sempurna. Bahkan keterbatasan alat bisa berubah menjadi bagian dari proses kreatif mereka.

Sementara itu, "Indonesia Maharddhika" menjadi salah satu karya paling monumental dari album tersebut.

Memiliki durasi sekitar 15 menit, lagu ini memperlihatkan ambisi musikal Guruh Gipsy secara penuh. Gamelan, keyboard, gitar, vokal, paduan suara, serta berbagai instrumen lainnya berpadu dalam komposisi panjang yang jauh dari format lagu pop pada umumnya.

"Indonesia Maharddhika" juga membawa gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan alam, sekaligus mengingatkan tentang pentingnya menjaga identitas tersebut.

Lagu itu terasa seperti pernyataan besar Guruh Gipsy: menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan akar budaya sendiri.

Proses pengerjaan Guruh Gipsy juga tidak kalah menarik dibandingkan musiknya.

Rekaman dimulai pada Juli 1975 di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa, Jakarta. Studio tersebut menggunakan teknologi rekaman 16 track yang tergolong maju untuk Indonesia pada masa itu.

Penggarapan album berlangsung dalam beberapa tahap dan memakan waktu sekitar 16 bulan. Namun, waktu yang benar-benar digunakan untuk bekerja di dalam studio disebut sekitar 52 hari.

Selebihnya digunakan untuk menulis lagu, latihan, mencari pendanaan, menyusun konsep, serta menunggu ketersediaan studio.

Proyek ini juga melibatkan banyak musisi di luar anggota utama Gipsy. Ada pianis Trisutji Kamal, kelompok gamelan Saraswati Bali yang dipimpin I Gusti Kompyang Raka, paduan suara Rugun dan Bornok Hutauruk, serta sejumlah pemain musik kamar.

Artinya, Guruh Gipsy sebenarnya lebih menyerupai proyek musik besar daripada sebuah band yang sekadar masuk studio dan merekam album.

Mereka harus menyatukan banyak pemain, banyak instrumen, dan banyak pendekatan musik ke dalam satu konsep.

Hal lain yang sering terlupakan adalah cara album ini dipasarkan.

Guruh Gipsy tidak dibuat dengan orientasi mengejar pasar massal. Album tersebut hanya dicetak sekitar 5.000 keping.

Bahkan, distribusinya tidak sepenuhnya mengikuti pola album populer pada masa itu. Rekaman ini disebut dipasarkan melalui tempat-tempat yang tidak lazim seperti apotek dan salon, selain melalui jaringan promosi dan radio.

Mereka juga menerbitkan booklet yang menjelaskan proses kreatif serta gagasan di balik album tersebut.

Cara tersebut memperlihatkan bahwa Guruh Gipsy sejak awal memang tidak diposisikan sebagai produk pop biasa.

Ini penting karena industri musik pada dasarnya membutuhkan pasar. Sementara Guruh Gipsy justru memilih membuat karya yang panjang, kompleks, mahal, dan tidak mudah dicerna.

Secara bisnis, langkah itu tentu memiliki risiko.