Namun dari sisi sejarah musik dan seni, keputusan tersebut justru membuat Guruh Gipsy memiliki posisi yang berbeda.

Pada masa itu, lagu-lagu populer dengan struktur sederhana dan tema percintaan jauh lebih mudah diterima pasar. Guruh Gipsy datang dengan lagu yang bisa berdurasi belasan menit, lirik yang sarat simbol, bahasa Bali, gamelan, orkestrasi, serta permainan rock progresif.

Dengan kata lain, mereka tidak mengikuti selera pasar. Mereka membuat ruang baru untuk jenis musik yang ingin mereka dengarkan sendiri.

Hal ini menjadi salah satu alasan album Guruh Gipsy kemudian dianggap penting dalam perjalanan musik Indonesia.

Album tersebut menunjukkan bahwa musisi Indonesia bisa menggunakan pengaruh musik Barat tanpa harus menjadi salinan musik Barat.

Mereka dapat mengambil rock progresif, teknologi rekaman modern, bahkan referensi musik klasik Eropa, lalu mempertemukannya dengan gamelan, bahasa daerah, cerita kebudayaan, dan persoalan Indonesia.

Gagasan semacam ini kemudian menjadi salah satu fondasi penting bagi berkembangnya musik eksperimental dan progresif di Indonesia.

Guruh Gipsy hanya satu album. Namun, satu album tersebut kemudian memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada usia proyeknya sendiri.

Setelah album selesai, para personelnya bergerak ke berbagai arah. Chrisye melanjutkan perjalanan solonya, Keenan Nasution mengembangkan kariernya sendiri, sementara Abadi Soesman kemudian bergabung dengan God Bless. Gipsy pun pada akhirnya tidak melanjutkan aktivitasnya sebagai kelompok seperti sebelumnya.

Menariknya, sejumlah gagasan musik Guruh Gipsy justru terus muncul dalam karya para personelnya.

"Smaradhana", misalnya, kemudian dibawakan kembali oleh Chrisye dalam perjalanan solonya. Eksplorasi terhadap gamelan dan nada-nada tradisional juga meninggalkan jejak pada karya sejumlah musisi setelahnya.

Bahkan, beberapa materi yang tidak masuk album tidak benar-benar hilang. Salah satunya "Insan Sesat", yang kemudian muncul dalam album Cermin milik God Bless.

Jadi, pengaruh Guruh Gipsy tidak hanya dapat dilihat dari album yang mereka tinggalkan, tetapi juga dari perjalanan musikal para musisi yang terlibat di dalamnya.

Ada banyak album lama yang terkenal karena nostalgia. Namun, Guruh Gipsy berbeda.

Ia tetap dibicarakan karena gagasan musiknya masih terasa relevan.

Persoalan yang dibicarakan dalam "Chopin Larung" dan "Janger 1897 Saka", misalnya, masih bisa dikaitkan dengan pertanyaan yang muncul hari ini: bagaimana menjaga kebudayaan ketika pariwisata berkembang, bagaimana menerima pengaruh asing tanpa kehilangan identitas, dan bagaimana musik tradisional dapat hidup berdampingan dengan teknologi serta musik modern.

Bahkan secara musikal, pendekatan Guruh Gipsy terasa seperti mendahului zamannya.

Mereka tidak memisahkan tradisi dan modernitas sebagai dua kubu yang harus dipilih salah satunya. Keduanya justru dipertemukan dan dibiarkan saling memengaruhi.

Mungkin inilah alasan mengapa album yang hanya dibuat sekali itu terus menemukan pendengar baru lintas generasi.

Pada akhirnya, Guruh Gipsy bukan hanya cerita tentang Guruh Soekarnoputra dan sebuah kelompok rock bernama Gipsy.

Ia adalah cerita tentang sekelompok musisi yang pada pertengahan 1970-an berani bertanya, "kalau musik Indonesia terus menerima pengaruh dari luar, mengapa pengaruh tersebut tidak diolah menjadi sesuatu yang benar-benar memiliki identitas Indonesia?"

Jawaban mereka terdengar dalam tujuh komposisi di Guruh Gipsy.

Sebuah album yang mungkin tidak dibuat untuk semua orang, tetapi justru karena itulah ia meninggalkan jejak yang panjang dalam sejarah musik Indonesia.