Lebih lanjut dia menuturkan pertemuan antarpengasuh bukan berarti menyeragamkan seluruh metode pendidikan pesantren. Setiap pesantren tetap memiliki kekhasan dan cara masing-masing dalam mendidik santri. Akan tetapi, perbedaan metode tersebut perlu berada dalam satu kesatuan nilai, ideologi, tujuan dan keyakinan.

"Dengan itu ada kesatuan ideologi, tujuan, dan keyakinan di tim redaksi santri-santrinya, meskipun metode dan cara pengajarannya bisa berbeda-beda," ujarnya menjelaskan.

Gus Mus mengingatkan pada masa lalu kiai berperan sangat luas di tengah masyarakat. Tak hanya sebagai pengajar agama, kiai juga jadi tempat masyarakat berkonsultasi mengenai berbagai persoalan kehidupan, mulai dari urusan keluarga, spiritual, hingga persoalan pertanian.

"Dulu kiai merangkul seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kiai menjadi pengajar, pembimbing sampai tempat berkonsultasi mengenai masalah pertanian," tandasnya.