NADIKABAR.COM — Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menyoroti gaya beragama sebagian warganya yang dinilai terlalu rasional dan tekstual. Sikap tersebut kerap memicu pandangan di masyarakat bahwa warga Muhammadiyah terkesan "dingin" dan kurang memiliki rasa empati spiritual.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pemahaman beragama di lingkungan Muhammadiyah idealnya tidak hanya mengandalkan akal sehat dan teks semata, tetapi juga harus melibatkan ketajaman mata hati dan kepekaan nurani (irfani).

Haedar menjelaskan, dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah sebenarnya terdapat tiga pendekatan utama yang saling melengkapi: bayani (tekstual/dalil), burhani (kontekstual/rasional), dan irfani (intuisi/kejernihan hati). Namun, dalam praktiknya, pendekatan irfani kerap dikesampingkan.

"Dalam praktik nyatanya, sering yang merasa jadi pimpinan, yang merasa jadi mubalig itu lupa. Ada yang hanya bayani saja lupa burhani-nya, ada yang burhani saja lupa bayani-nya. Dan sering kali, ada yang paham dua-duanya tapi justru lupa irfani-nya," ujar Haedar saat menghadiri Wisuda Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dikutip dari laman Muhammadiyah.

Menurut Haedar, mengabaikan pendekatan irfani membuat aktivitas beragama kehilangan roh dan rasa kemanusiaannya. Dampaknya, muncul stereotip atau anggapan sinis dari luar yang menilai orang Muhammadiyah terlalu kaku, bahkan dianggap tidak mendoakan orang yang telah meninggal dunia.