NADIKABAR.COM — Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap alasan memilih genre horor dalam karya filmnya berjudul "Lobang Buaya" yang mengangkat kisah berlatar Indonesia tahun 1964 hingga rangkaian peristiwa 1965.
Dalam kegiatan nonton bareng Film Lobang Buaya di Suncity Madiun XXI di Madiun, Jatim, Sabtu ia mengatakan bahwa film horor tidak hanya bertumpu pada kemunculan hantu maupun kejutan penampakan (jumpscare). Namun, horor juga termasuk teror mendalam yang mengusik sisi psikologis penonton yang justru menjadi hal pokok dari genre tersebut.
"Horor itu adalah psikologis. Teror yang menyerang psikologis kita, yang membuat kita stres, yang membuat kita enggak bisa tidur," ujarnya.
Menurutnya, horor dinilai relevan karena tragedi di tahun tersebut telah menjadi bagian dari ingatan dan ketakutan kolektif masyarakat Indonesia.
Film Lobang Buaya yang diproduksi Adhya Pictures dan Dapur Film itu resmi tayang di bioskop sejak 1 Oktober 2026. Film tersebut mengambil latar sebelum dan sekitar rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan kawasan Lubang Buaya.
Memasuki hari ketiga penayangan, Lobang Buaya mendapat sambutan penonton di Suncity Madiun XXI. Special screening tersebut turut dihadiri Hanung Bramantyo dan pemeran Arum, Carissa Perusset.
Hanung mengatakan, Lobang Buaya lebih tepat dengan film drama misteri investigasi yang menceritakan tujuh orang meninggal secara tidak wajar dan misterius, serta membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa.
Istilah 7 Setan Desa menjadi salah satu pijakan cerita dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat koruptor, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya.
Isu tersebut ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini karena dirinya membuat sebuah film untuk menyuarakan sebuah keadaan masyarakat terkait kondisi sosial, keagamaan, dan politik.
Selain itu, Hanung berharap film tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenali sejarah secara lebih kritis. Ia mengajak penonton memahami bahwa narasi sejarah dapat memiliki beragam perspektif, bergantung pada pihak yang menyusun dan mewariskannya.
Sementara itu, Bupati Madiun Hari Wuryanto yang hadir bersama istrinya dalam kegiatan nonton bareng itu mengapresiasi film karya Hanung Bramantyo. Ia berharap Lobang Buaya dapat memberikan inspirasi sekaligus mengingatkan generasi muda tentang peristiwa yang terjadi pada 1965. Selain itu juga dapat memberikan pencerahan kepada generasi muda.
"Sejarah itu perlu kita ketahui semua, agar bisa memberikan pengalaman yang lebih baik. Yang baik tetap baik. Ini yang perlu kami tekankan," kata Bupati Madiun.