"Banyak yang beli daging biasa, soalnya lebih murah kata mereka," katanya.
Zahra, warga Mataram mengaku terpaksa membeli daging sapi kelas satu, yang dicampur dengan dagimg kelas tiga. "Mau nggak mau, kita siasati jadinya. Harganya buset, mahal banget," ungkapnya saat ditemui usai sidak di Pasar Kebon Roek, Rabu.
Sementara itu, Asisten II Setda Kota Mataram, Miftahurrahman menuturkan, lonjakan harga daging sapi maupun daging ayam di pasar tradisional di Kota Mataram dipicu oleh kebutuhan masyarakat yang tinggi dan adanya kebijakan kuota dari distributor kepada para pedagang.
"Kebutuhan (masyarakat) tinggi. Biasanya harga daging sapi Rp 120 ribu, sekarang posisinya Rp 160 ribu per kilogram," ucapnya.
Miftah mengungkapkan, ada penyesuaian modal dan penjatahan jumlah stok dari distributor. Sehingga harga daging melambung tinggi. "Ada pengaturan jumlah yang harus di stok pedagang, sehingga memengaruhi kenaikan harga pasar," jelasnya.
Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, menuturkan lonjakan harga paling signifikan terjadi pada daging sapi dan daging ayam. Selain permintaan tinggi untuk tradisi roah (pesta) Maulid, pasokan di tingkat pedagang juga berkurang drastis.