NADIKABAR.COM — Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya ekspektasi investor bahwa Amerika Serikat (AS) akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang.
Dilansir dari CNBC, Jumat (23/10/2026), harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak bulan terdekat naik 1,8% menjadi US$ 115,18 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2% menjadi US$ 101,56 per barel.
Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Darat Iran mengatakan bahwa militer negaranya telah sepenuhnya siap menghadapi perang asimetris setelah memperkuat kemampuan militernya. Pernyataan tersebut dilaporkan oleh kantor berita pemerintah Iran, Tasnim.
Harga minyak berjangka Brent diperkirakan mencatat kenaikan mingguan sekitar 5%, sekaligus berada di jalur penguatan selama tiga pekan berturut-turut. Sementara itu, minyak berjangka WTI diperkirakan mencatat kenaikan mingguan tipis sebesar 0,3%.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa negaranya tidak sedang melakukan negosiasi dengan Iran dan menyebut sesuatu akan terjadi "dalam waktu dekat".
Pernyataan Trump yang penuh teka-teki itu muncul ketika sejumlah pejabat AS mengatakan kepada The New York Times bahwa AS dan Israel telah menyiapkan rencana serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS.
Sementara itu, kelompok militan Houthi yang bersekutu dengan Iran terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan seluruh personel yang tidak memiliki tugas penting untuk meninggalkan Arab Saudi akibat serangan tersebut.
Serangan drone yang menargetkan ladang minyak Shaybah di wilayah timur Arab Saudi pada Rabu menyebabkan dua orang tewas dan dua lainnya terluka, menurut laporan media pemerintah Saudi.
Sedikitnya dua orang juga tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam.
Raksasa minyak Saudi Aramco telah menginstruksikan para karyawannya untuk meninggalkan kantor pusat perusahaan di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Hal ini menyusul serangkaian serangan yang dilakukan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.